Antara cinta dan misi
“Kring… kring…” bunyi alarm di handphone ku
berdering sangat keras, tapi sayangnya alarmku kalah cepat karena pagi ini aku
bangun lebih awal dari biasanya, rasa degdegan ini belum hilang dari semalaman,
aku pun segera bergegas mandi dan ternyata mamahku sudah menyiapkan sarapan
untuk kami, tetapi karena terburu-buru, aku pun belum sempat sarapan karena
sahabatku Lola sudah menungguku di depan rumah.
“Lol, aku degdegan banget nih, aku gak yakin bakal jadi pemenang tahun ini, lagian kan kamu tahu sendiri saingannya tuh emang pada hebat.”
“Aduh santai aja kali Sil, kamu kan udah biasa ikutan olimpiade kaya gituan, optimis dong! kita berdoa aja semoga kamu jadi yang terbaik, pengumumannya setengah jam lagi loh.”
“Lol, aku degdegan banget nih, aku gak yakin bakal jadi pemenang tahun ini, lagian kan kamu tahu sendiri saingannya tuh emang pada hebat.”
“Aduh santai aja kali Sil, kamu kan udah biasa ikutan olimpiade kaya gituan, optimis dong! kita berdoa aja semoga kamu jadi yang terbaik, pengumumannya setengah jam lagi loh.”
Sesampainya di kelas, aku pun secepat mungkin membuka mac book ku dan aku segera melihat daftar nama pemenang yang sudah dijanjikan untuk diumumkan hari ini. Aku mencari namaku dipaling bawah, tapi ternyata tidak ada namaku, dan ternyata “Cantika Prisila” berada paling atas. Wow. Sungguh aku sangat tak percaya. Berkat doa dan support yang selalu diberikan oleh semua orang, khususnya orang tua dan teman-temanku, akhirnya aku kembali menjadi juara olympiade Fisika tahun ini. Bagaikan mimpi saja, aku mengalahkan saingan-saingan terberatku seperti SMA Pembangunan Nasional itu, padahal yang aku tahu sekolah itu selalu mengirimkan perwakilan-perwakilannya yang terbaik, aku pun mengakui saingan terberatku itu kebanyakan berasal dari kaum adam. Mungkin memang peminat fisika mayoritas laki-laki, pikirku.
**Satu tahun kemudian~
Aku duduk di lapang sekolah sendirian, saat itu
aku melihat sesosok wajah yang rasanya pernah aku temui tapi aku tidak
mengenalinya, ternyata dia murid baru pindahan dari SMA Pembangunan Nasional,
memang wajar saja jika banyak wanita yang menyukainya, wajahnya yang kalem, dan
gayanya yang cool, serta sikapnya yang ramah membuat semua orang ingin berteman
dengannya, tidak terkecuali aku. Gamaliel namanya.
Dua bulan berteman dengan Gamal membuatku semakin dekat dengannya, akhir-akhir ini pun kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama.
Pada malam kamis itu, aku pun tak mengerti apa maksud SMS Gamal
“Aku suka sama orang tapi apa mungkin orang yg aku suka juga suka sama aku?” SMS itu membuatku kecewa, karena ternyata dia menyukai orang lain, aku pun membalas smsnya dengan rasa kesal “emangnya siapa sih?” “ada deh, pokonya sekarang aku lagi ada di depan rumah dia, coba kamu lihat ke luar” jawab Gamal. Seketika itu juga hatiku berdebar sangat cepat, rasanya kupu-kupu dan bunga bunga berterbangan di atas kepalaku. Ternyata dia sudah ada di luar rumah dengan sebuah boneka dan sebuah bunga mawar merah ditangannya, sebenernya tradisi itu sudah tidak aneh dilakukan oleh para lelaki, tapi entah mengapa menurutku ini sangat berbeda, pada malam itu juga kami resmi berpacaran, dan malam itu berhasil membuatku tidak tidur sampai keesokan harinya.
Layaknya sepasang kekasih yang lain, kami pun selalu menghabiskan waktu bersama, bahkan di sekolah pun kami di nobatkan sebagai pasangan “Ter ideal”.
Tetapi ada satu hal yang aku benci dari dirinya, sikap dia di kelas yang menurutku aktif berlebihan membuatku selalu berfikir bahwa dia ingin menjadi murid teladan, entahlah padahal dia tahu bahwa murid teladan tahun lalu adalah pacarnya sendiri.
Orang tua kami pun sudah saling mengenal, bahkan kami sering main ke rumah satu sama lain, orangtua ku pun sudah mengizinkan ku berteman dengannya karena mereka tahu bahwa Gamal adalah anak yang pintar, sopan, ramah, dan tampan.
Hari –hari ku pun semakin hari semakin berwarna berkat ada dia di hidupku. Dia bagaikan langit, kapanpun selalu ada untukku, bahkan dia bagaikan penyu yang selalu menjaga telur-telurnya, sama halnya dengan dia menjagaku.
Setelah 6 bulan berpacaran, hari itu pun aku diundang ke rumahnya untuk merayakan tanggal jadian kami. sebagai kejutan, aku pun menaruh kado yang sudah aku siapkan beberapa bulan yang lalu di kamar dia, memang tak seberapa tapi menurutku itu adalah barang yang spesial, kebetulan Gamal sedang mengambil kue di dapur, aku mengelilingi kamarnya yang menurutku unik jika dibandingkan dengar kamar anak cowo yang lain, tanpa kusadari aku menginjak sebuah buku, tanpa meminta izin kepadanya aku pun membuka halaman demi halaman buku itu. Dan ternyata buku itu berisi visi-visi dia,
“Mengalahkan Cantika Prisilia di olympiade fisika- Gagal” aku pun terhentak sejenak setelah membacanya, aku pun segera membuka lembaran berikutnya dan ternyata dia menulis “Pacaran dengan Cantika Prisilia dan menghancurkannya secara perlahan menjelang ujian nasional”
“prak…” buku itu pun jatuh berbarengan dengan tangisan air mataku. Aku pun segera keluar dari kamarnya dan ternyata Gamal mencegatku.
“Aku bisa jelasin ini semua Sil, aku mohon kamu dengerin aku dulu.” Pintanya, aku pun menghiraukannya dan segera pergi dari rumahnya,
Aku tak menyangka orang yang aku sayang ternyata hanya memanfaatkanku, betapa bodohnya aku. Tak terpikir sedikitpun Gamal bisa sejahat itu, sekarang aku ingat, Gamal ternyata sainganku waktu olypiade fisika tahun lalu. Sungguh aku merasa dikhianati oleh dia.
Sahabatku yang aku tinggalkan hanya karena seorang kekasih sekarang malah menjadi orang yang membangkitkan ku lagi, Lola memang benar-benar sahabatku. Berkat dia aku sudah mulai melupakan Gamal, dan mencoba untuk menjadi diriku yg dulu. Selalu ceria.
Dua bulan berteman dengan Gamal membuatku semakin dekat dengannya, akhir-akhir ini pun kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama.
Pada malam kamis itu, aku pun tak mengerti apa maksud SMS Gamal
“Aku suka sama orang tapi apa mungkin orang yg aku suka juga suka sama aku?” SMS itu membuatku kecewa, karena ternyata dia menyukai orang lain, aku pun membalas smsnya dengan rasa kesal “emangnya siapa sih?” “ada deh, pokonya sekarang aku lagi ada di depan rumah dia, coba kamu lihat ke luar” jawab Gamal. Seketika itu juga hatiku berdebar sangat cepat, rasanya kupu-kupu dan bunga bunga berterbangan di atas kepalaku. Ternyata dia sudah ada di luar rumah dengan sebuah boneka dan sebuah bunga mawar merah ditangannya, sebenernya tradisi itu sudah tidak aneh dilakukan oleh para lelaki, tapi entah mengapa menurutku ini sangat berbeda, pada malam itu juga kami resmi berpacaran, dan malam itu berhasil membuatku tidak tidur sampai keesokan harinya.
Layaknya sepasang kekasih yang lain, kami pun selalu menghabiskan waktu bersama, bahkan di sekolah pun kami di nobatkan sebagai pasangan “Ter ideal”.
Tetapi ada satu hal yang aku benci dari dirinya, sikap dia di kelas yang menurutku aktif berlebihan membuatku selalu berfikir bahwa dia ingin menjadi murid teladan, entahlah padahal dia tahu bahwa murid teladan tahun lalu adalah pacarnya sendiri.
Orang tua kami pun sudah saling mengenal, bahkan kami sering main ke rumah satu sama lain, orangtua ku pun sudah mengizinkan ku berteman dengannya karena mereka tahu bahwa Gamal adalah anak yang pintar, sopan, ramah, dan tampan.
Hari –hari ku pun semakin hari semakin berwarna berkat ada dia di hidupku. Dia bagaikan langit, kapanpun selalu ada untukku, bahkan dia bagaikan penyu yang selalu menjaga telur-telurnya, sama halnya dengan dia menjagaku.
Setelah 6 bulan berpacaran, hari itu pun aku diundang ke rumahnya untuk merayakan tanggal jadian kami. sebagai kejutan, aku pun menaruh kado yang sudah aku siapkan beberapa bulan yang lalu di kamar dia, memang tak seberapa tapi menurutku itu adalah barang yang spesial, kebetulan Gamal sedang mengambil kue di dapur, aku mengelilingi kamarnya yang menurutku unik jika dibandingkan dengar kamar anak cowo yang lain, tanpa kusadari aku menginjak sebuah buku, tanpa meminta izin kepadanya aku pun membuka halaman demi halaman buku itu. Dan ternyata buku itu berisi visi-visi dia,
“Mengalahkan Cantika Prisilia di olympiade fisika- Gagal” aku pun terhentak sejenak setelah membacanya, aku pun segera membuka lembaran berikutnya dan ternyata dia menulis “Pacaran dengan Cantika Prisilia dan menghancurkannya secara perlahan menjelang ujian nasional”
“prak…” buku itu pun jatuh berbarengan dengan tangisan air mataku. Aku pun segera keluar dari kamarnya dan ternyata Gamal mencegatku.
“Aku bisa jelasin ini semua Sil, aku mohon kamu dengerin aku dulu.” Pintanya, aku pun menghiraukannya dan segera pergi dari rumahnya,
Aku tak menyangka orang yang aku sayang ternyata hanya memanfaatkanku, betapa bodohnya aku. Tak terpikir sedikitpun Gamal bisa sejahat itu, sekarang aku ingat, Gamal ternyata sainganku waktu olypiade fisika tahun lalu. Sungguh aku merasa dikhianati oleh dia.
Sahabatku yang aku tinggalkan hanya karena seorang kekasih sekarang malah menjadi orang yang membangkitkan ku lagi, Lola memang benar-benar sahabatku. Berkat dia aku sudah mulai melupakan Gamal, dan mencoba untuk menjadi diriku yg dulu. Selalu ceria.
Ujian nasional pun tinggal di depan mata, aku
dan Lola pun sudah mempersiapkannya dengan baik. Aku merasa jauh lebih baik tanpa
Gamal, tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku merindukannya, setiap hari dia
selalu mengirimku SMS sekurang-kurangnya seratus SMS perhari, dan puluhan
missed call. Bahkan dia berani menanyakan keadaanku ke orangtuaku.
“Apa dia tak punya malu? Masih saja selalu menghubungiku” pikirku dalam hati, tapi kali ini aku benar-benar sedikit meluluh, aku mengangkat telfon dia, dan aku mendengarkan suara yang sangat aku rindukan.
“Sil, aku benar-benar minta maaf, waktu itu aku memang benci sama kamu dan berniat buat ngehancurin kamu, aku iri sama kamu, kamu bisa mengalahkanku waktu olym fisika, tapi sekarang aku sadar kalo aku ga akan bisa tanpa kamu, aku rapuh, aku sayang banget sama kamu.” Nada itu kembali mengingatkanku. Tanpa sepatah kata pun, aku langsung mematikan telfon itu karena aku sudah tak tahan untuk mengeluarkan air mata.
Hari yang menjadi penentuan kelulusan anak kelas 12 pun tiba, kami pun sudah siap untuk ujian nasional hari ini. Ternyata aku satu ruangan dengan Gamal, kami pun masih tetap canggung, dan aku tidak mau sedikitpun melirik ke balakang karena Gamal duduk tepat dibelakangku. Aku segera mengeluarkan barang-barang yang ada di tas ku yang sudah aku siapkan. Gawat! Ternyata tempat pensilku ketinggalan, aku pun panik. Gamal mencoba bertanya kepadaku “kenapa? Ga bawa pensil? Pake aja yang aku” tawarnya. “Gak usah aku mau pinjem aja ke yang lain” “yang lain udah sibuk ngebuletin loh, apa kamu mau ganggu mereka? Pake aja, aku bawa dua ko”
Setiap hari selama ujian nasional, aku yakin kalo Gamal udah beres ngisi ujiannya, tapi dia selalu nunggu aku terus dan akhirnya kita selalu mengumpulkan kertas jawaban berbarengan.
Ujian nasional pun selesai, dan setelah melihat hasilnya ternyata yang mendapat nilai terbesar yaitu “Cantika Prisilia” dan hanya berbeda 0,5 dengan yang mendapat nilai terbesar kedua, yap Gamaliel tepat berada di bawahku, aku pun sangat bersyukur dengan hasilku ini,
“Selamat ya Sil, kamu emang hebat.” Lontar Gamal, “kamu juga hebat ko Mal, makasih ya, eh aku mau ngasih tau kalo aku mau pindah ke German, kebetulan keluargaku disana sudah menungguku” “oh, aku udah tau ko, orangtua kamu udah ngasih tau aku, kapan kamu berangkat? Hati-hati ya”
“loh ko dia datar gitu sih? Cuma hati-hati aja? Gak sedih apa kalo aku pergi?” gerutuku.
Pukul 07.00 aku sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta diantar Lola, Aku sangat sedih meninggalkan Indonesia, sebenarnya aku tak mau meninggalkan Lola dan….. Gamal. Aku pun segera berpelukan erat dengan Lola sambil mencari-cari seseorang yang tak pasti akan datang.
“ternyata dia benar-benar udah ngelupain aku Lol” “jangan negatif thinking gitu dong” Lola mencoba menghiburku,.
“bruk” tasku jatuh di tabrak orang lain, aku pun marah marah dan ternyata itu adalah Gamal. Aku kaget kenapa Lola tidak memberitahu aku kalo ternyata Gamal juga akan pergi ke German karena dia dapat beasiswa kuliah disana. Aku pun pergi ke German bersama dia, kita duduk bersebelahan di pesawat, setelah beberapa jam diperjalana, akhirnya kita sampai di German, hari itu kita mencari tempat untuk tinggal Gamal selama di German, dan tempat itu berada di belakang Universitas kami. Keesokan harinya, kita pergi kuliah bersama karena tempat tinggal kami berdekatan, aku mengambil jurusan hukum, dan dia sastra.
Kami selalu bersama, melupakan masa lalu, menata persahabatan kami dari awal lagi termasuk melupakan persaingan antara kita.
“Apa dia tak punya malu? Masih saja selalu menghubungiku” pikirku dalam hati, tapi kali ini aku benar-benar sedikit meluluh, aku mengangkat telfon dia, dan aku mendengarkan suara yang sangat aku rindukan.
“Sil, aku benar-benar minta maaf, waktu itu aku memang benci sama kamu dan berniat buat ngehancurin kamu, aku iri sama kamu, kamu bisa mengalahkanku waktu olym fisika, tapi sekarang aku sadar kalo aku ga akan bisa tanpa kamu, aku rapuh, aku sayang banget sama kamu.” Nada itu kembali mengingatkanku. Tanpa sepatah kata pun, aku langsung mematikan telfon itu karena aku sudah tak tahan untuk mengeluarkan air mata.
Hari yang menjadi penentuan kelulusan anak kelas 12 pun tiba, kami pun sudah siap untuk ujian nasional hari ini. Ternyata aku satu ruangan dengan Gamal, kami pun masih tetap canggung, dan aku tidak mau sedikitpun melirik ke balakang karena Gamal duduk tepat dibelakangku. Aku segera mengeluarkan barang-barang yang ada di tas ku yang sudah aku siapkan. Gawat! Ternyata tempat pensilku ketinggalan, aku pun panik. Gamal mencoba bertanya kepadaku “kenapa? Ga bawa pensil? Pake aja yang aku” tawarnya. “Gak usah aku mau pinjem aja ke yang lain” “yang lain udah sibuk ngebuletin loh, apa kamu mau ganggu mereka? Pake aja, aku bawa dua ko”
Setiap hari selama ujian nasional, aku yakin kalo Gamal udah beres ngisi ujiannya, tapi dia selalu nunggu aku terus dan akhirnya kita selalu mengumpulkan kertas jawaban berbarengan.
Ujian nasional pun selesai, dan setelah melihat hasilnya ternyata yang mendapat nilai terbesar yaitu “Cantika Prisilia” dan hanya berbeda 0,5 dengan yang mendapat nilai terbesar kedua, yap Gamaliel tepat berada di bawahku, aku pun sangat bersyukur dengan hasilku ini,
“Selamat ya Sil, kamu emang hebat.” Lontar Gamal, “kamu juga hebat ko Mal, makasih ya, eh aku mau ngasih tau kalo aku mau pindah ke German, kebetulan keluargaku disana sudah menungguku” “oh, aku udah tau ko, orangtua kamu udah ngasih tau aku, kapan kamu berangkat? Hati-hati ya”
“loh ko dia datar gitu sih? Cuma hati-hati aja? Gak sedih apa kalo aku pergi?” gerutuku.
Pukul 07.00 aku sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta diantar Lola, Aku sangat sedih meninggalkan Indonesia, sebenarnya aku tak mau meninggalkan Lola dan….. Gamal. Aku pun segera berpelukan erat dengan Lola sambil mencari-cari seseorang yang tak pasti akan datang.
“ternyata dia benar-benar udah ngelupain aku Lol” “jangan negatif thinking gitu dong” Lola mencoba menghiburku,.
“bruk” tasku jatuh di tabrak orang lain, aku pun marah marah dan ternyata itu adalah Gamal. Aku kaget kenapa Lola tidak memberitahu aku kalo ternyata Gamal juga akan pergi ke German karena dia dapat beasiswa kuliah disana. Aku pun pergi ke German bersama dia, kita duduk bersebelahan di pesawat, setelah beberapa jam diperjalana, akhirnya kita sampai di German, hari itu kita mencari tempat untuk tinggal Gamal selama di German, dan tempat itu berada di belakang Universitas kami. Keesokan harinya, kita pergi kuliah bersama karena tempat tinggal kami berdekatan, aku mengambil jurusan hukum, dan dia sastra.
Kami selalu bersama, melupakan masa lalu, menata persahabatan kami dari awal lagi termasuk melupakan persaingan antara kita.
Nisrina
Nur’aini
SKS
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar